Sunday, March 31, 2013

[NulisRingkas] Pembenaran Yg Tidak Benar


PELAKU KEJAHATAN jalanan biasanya menolak mati2an tuduhan saat ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. Kemudian saat bukti2 dipaparkan, mereka biasanya bakal mengakui dg dalih keterbatasan sbg manusia membuat mereka gelap mata dan akhirnya terpaksa melakukan tindakan tersebut.

Pelaku kejahatan berdasi biasanya menolak mati2an tuduhan saat ditangkap dan atau ditetapkan sbg tersangka. Kemudian, saat bukti2 dipaparkan, mereka mulai memposisikan diri sbg korban dari carut marutnya sistem yg mereka jalani itu (***)

baca terus->

Friday, January 11, 2013

[NulisRingkas] Paham Parsial


PEMIKIRAN SECARA parsial biasanya menggiring kita untuk melakukan pemahaman secara parsial juga. Kemudian akhirnya, penyimpulan yg diambil bisa jadi juga akan parsial.

Padahal elemen2 lain dlm bahan pikir yg diabaikan, bila digabungkan, mungkin saja malah menelurkan kesimpulan yg sebenarnya sama sekali berbeda. (***)
baca terus->

Friday, January 4, 2013

Puisi-puisi, Para Pendoa dan Tentang Sebuah Janji


AKU BARU saja berpikir tentang perubahan sikap hidup.
Tentang pengharapan yg sepertinya sia-sia.
Ini tentang masa lalu.
Juga masa depan yg akan jadi kenangan.

Aku baru menemukannya beberapa jam lalu.
Tentang puisi-puisi yang berisi doa para pengharap.
Itu adalah tentang sebuah janji.
Juga pengharapan yang terpatri walau kelihatannya seperti mati.

Puisi-puisi itu.
Dan, kegundahan harapan para pendoa.
mungkin tetap terus setia dan berharap pada janji dan harapan mereka. (***)
baca terus->

Thursday, December 6, 2012

Merangkai Pulau Merajut Merah Putih



DALAM BAYANGAN  saya, program ini bisa ikut membantu menumbuh-kembangkan lagi semangat kebangsaan kita. Juga bagi saudara-saudara kita yang tinggal di beberapa titik perbatasan negara. Dengan semangat kebangsaan yang sama, saya pikir kita bisa bersama-sama mewujudkan kembali identitas sebagai bangsa besar yang disegani.

Ini merupakan program televisi. Idenya saya sadur dari pemikiran pak Imawan Mashuri (Dirut Jawa Pos Multimedia Corporation) yang sebenarnya ingin membuat program yang mengangkat keunggulan daerah. Mulai dari Sabang Hingga Merauke. Visinya ingin memberi paparan dan mengingatkan kembali ke masyarakat bahwa bangsa ini besar. Bangsa ini sebenarnya kaya.


baca terus->

[NulisRingkas] Jujur Itu Simpel



PENYELESAIAN MASALAH  yg dilakukan dg jujur biasanya jauh lebih sederhana. Kita tdk perlu menjalani proses panjang berbelit hanya utk mencari point pembenaran yg klop dg ketidakjujuran yg kita lakukan.

Anda tahu, proses penanganan & penyelesaian masalah mmg tdk selamanya mudah & sederhana. Tapi akan terasa jauh lebih mudah dan sederhana jika kita melakukannya dg jujur. (***)
baca terus->

Budidaya Budaya



DALAM BAHASA  Inggris, kita sering mendapati budaya dituliskan sebagai culture. Agama (religion), oleh beberapa kalangan juga dikelompokkan sebagai budaya (culture) dan masuk dalam kategori seni (art).

Kalau anda  sedang punya waktu luang dan kebetulan berlangganan tv satelit, coba buka dan perhatikan.  Siaran televisi sekarang juga sudah dikelompokkan. Ada tv film (movie tv), tv pengetahuan (science tv), tv berita (news tv) dan tv yang memuat program-program kesenian (art tv). Ada beberapa kategori lainnya seperti tv musik (music tv) dan tv hiburan (show tv).


baca terus->

[NulisRingkas] Kebebasan Itu



KEBEBASAN ITU saya pikir cuma omong kosong. Sebagai makhluk hidup yg diciptakan punya akal, sepanjang hayat kita akan selalu dibatasi oleh norma2. Suka ga suka, kita juga bakal selalu dibatasi oleh aturan2. Norma2 dan aturan2 itu membatasi kita agar tidak liar. Tidak jadi bebas sebebas2nya binatang. Norma2 dan aturan2 itu juga yang membedakan kita dengan binatang.

Atas nama akal, kadang kita menolak norma2 dan aturan2. Atas nama perkembangan akal dalam mencerna suatu masalah, kadang kita menganggap bahwa norma2 dan aturan2 yang mengatur kita adalah suatu hal yang usang. Dengan akal, kita kira kita bisa berpikir bebas? Tahu ga, akal yang kita punya itu terbatas sekali untuk bisa mengetahui seluruh apa yang ada di jagat ini? (***)
baca terus->

Visi, Realisasi dan Dugaan Korupsi



SAYA  DIAJAK  teman baik saya, Raflis Tias, GM Patria Tour & Travel ke sebuah gedung aneh di kota Pekanbaru beberapa waktu kemarin. Belakangan saya tahu, itu gedung perpustakaan umum Soeman HS. Sekilas diperhatikan dari jauh, bentuk bangunannya seperti alas untuk meletakkan Alquran atau buku yang sedang terbuka. Kata teman saya itu, di sana ada kopi yang enak dan kami sama-sama penyuka kopi.

Dari bangunan gedung perpustakaan itu, saya lihat ada lagi gedung yang lebih aneh. Bangunan bertingkat tinggi dengan atap menyerupai siluet sebuah kapal. Awalnya, saya mengira itu sebuah gedung teater. Seperti Esplanade house di Singapura yang juga memiliki bentuk unik.


baca terus->

Televisi ; Trend, Teknologi dan Digitalisasi



HANYA DALAM  beberapa dekade setelah teknologi televisi diperkenalkan dan kemudian jadi booming “kotak ajaib” di  masyarakat, teknologi siaran televisi sudah begitu cepat berkembang. Sebentar lagi, kita  akan segera benar-benar merubah kebiasaan dan cara mengakses televisi.

Even BroadcastAsia yang tiap tahun digelar di Singapura, bisa jadi merupakan salah satu barometer perkembangan dunia penyiaran, khususnya televisi. Banyak teknologi baru yang diperkenalkan tiap tahunnya. Bahkan, kadang teknologi yang belum diproduksi secara massal karena masih menjalani masa ujicoba produk.


baca terus->

[Motivasi Malaka] Komersialisasi Kota Tua (2)



HEY, ITU bendera Malaysia, kan” kata saya pada Sammy, rekan pemandu saya selama di Malaka.
Kenapa dipasang sembarangan? Jadi umbul-umbul? Jadi spanduk di toko-toko?
“Kami bangga dengan bendera negara, oleh kerana itu, banyak kami pasang di merata tempat”, jawab Sammy.

Saya diam. Mungkin ini cuma cara penghormatannya saja yang berbeda. Kalau di Indonesia, hampir tidak ada yang memasangnya dengan cara seperti itu, karena mengganggap merah putih harus dihormati dengan cara menempatkannya di tempat yang tepat. Ya, di tiang bendera.


baca terus->

[Motivasi Malaka] Komersialisasi Kota Tua (1)



SAYA PENASARAN  dengan cerita beberapa teman tentang kota Malaka. Katanya, di sana menyenangkan. Memang bukan sebagai kota besar. Tapi kota yang menjual ketuaannya sebagai destinasi wisata selain destinasi kota tujuan wisata kesehatan bagi orang-orang yang sakit.

Beberapa waktu kemarin, kebetulan ada undangan mengunjungi kota itu. Maskapai Sky Aviation membuka penerbangan perdana ke Malaka via Tanjung Pinang. Karena undangannya hari jumat dan saya sedang punya waktu agak luang, saya putuskan berangkat saja.


baca terus->

Wednesday, September 14, 2011

Kalah


Kita sering kali disuguhi & dipaksa melihat tayangan2 ‘kekalahan’. Semoga bangsa ini tidak jadi ‘the loser nation’. Selamat pagi semua…
baca terus->

Kreatifitas Imaji

Dongeng itu isinya cerita, fiksi, seni & sastra. Cuma imajinasi tapi nyata di kepala. Ia bisa menstimulasi pikiran & mewujudkannya jd nyata dg menyesuaikan pd realita yg ada. Saya menyebutkan kreatifitas dr imajinasi.
baca terus->

Wednesday, August 31, 2011

Mereka Berdua & Pulau seluas 16 Hektar

SALAH SATU keinginan saya yang belum kesampaian adalah membuat dokumentasi kabar terbaru pasangan Asui dan Pakiang Liem. Dua sejoli yang menghabiskan hari-harinya dengan hidup berdua saja di sebuah pulau di kawasan Barelang. Terakhir kali saya mengunjungi mereka 4 tahun lalu.

Bukan cuma kehidupan mereka saja yang menurut saya menarik. Bertahun-tahun hanya hidup berdua di sebuah rumah sederhana di sebuah pulau. Seperti kisah dalam film blue lagoon, ini romantis. Pemandangan laut, pantai dan pulau itu juga begitu menggelitik saya untuk datang lagi.


baca terus->

Monday, August 8, 2011

Memoar sebuah Memori


JALAN POS di Tanjung Pinang masih sama seperti hampir 30 tahun lalu. Ruas jalannya kecil. Jadi saat ada kendaraan roda empat berpapasan dengan misalnya becak pengangkut barang, salah satu biasanya harus mengalah. Turun ke bahu jalan di luar aspal. Keruwetan bakal bertambah karena badan jalan juga digunakan untuk parkir kendaraan.

Walau sudah lama tidak melintasi jalan ini, rasanya saya masih hapal dengan nama-nama toko yg berjajar. Juga masih sama seperti hampir 30 tahun lalu. Yang dijual juga sama. Hanya saja, bangunannya sudah mulai menua karena termakan usia.

Saya ingat, dulu di toko pakaian yang ada di ujung jalan pos dan mengarah ke pasar basah, saya dibelikan satu setel pakaian warna biru oleh bapak. Pakaian itu sempat jadi pakaian favorit kebanggaan saat kecil. Di depan toko itu, saya sempat berhenti sebentar. Penjualnya seorang lelaki keturunan Tionghoa yg sudah berumur. Walau tidak begitu yakin, saya rasa pria itu dululah yang menjualkan satu setel pakaian tersebut pada saya.

Ia menatap saya dan tersenyum.

“Silahkan, pak. Mungkin ada yang cocok untuk anaknya”, ujar sang penjual.

“Tidak, terima kasih”, balas saya sambil tersenyum dan kemudian berlalu.

Dua atau tiga ruko dari toko pakaian tadi, di seberangnya, saya melihat sebuah ruko tua lain. Isinya hanya tumpukkan plastik kresek hitam yang diletakkan begitu saja. Tidak bisa dikatakan rapi. Ada juga karet-karet gelang dalam jumlah lumayan banyak. Seorang wanita keturunan tionghoa lain yang usianya saya tebak sudah lebih dari 60-an tahun, sibuk mengatur tumpukan plastik-plastik kresek itu. Di sebelahnya ada seorang pria tionghoa juga -mungkin sekitar 40-an tahun- ikut membantu sang wanita tua. Mereka sedang merapikan dagangan sambil menunggu pembeli.

Saya ingat toko ini. Dulu, saya sering dibawa bapak untuk membeli karet-karet gelang. Saya membeli Karet-karet gelang untuk bermain lastikkan (istilah permainan seperti main gundu, tapi menggunakan karet gelang -pen) bersama teman-teman. Tapi, saya lupa apakah dua orang tersebut adalah orang yang sama seperti 30 tahun lalu. Mungkin iya.

Sambil jalan, saya kemudian berpikir-pikir sendiri. Para pemilik toko di sepanjang jalan ini rata-rata mungkin memang tidak ngoyo dalam berusaha. Yang penting bisa terus berdagang dengan hasil digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja, tidak lebih. Jika memang berkelanjutan, usaha mereka diteruskan keturunannya yang mungkin akan mengadopsi pola berusaha yang sama.

Jalan pos memang bukan jalan besar. Panjangnya juga tidak sampai 1 km. Tapi, ini adalah salah satu denyut nadi kota Tanjung Pinang. Para pedagang di ruko-ruko tua menjajakan dagangan mereka. Mereka bertahan atau mungkin setia di tengah lindasan zaman. Ada hilir mudik para penarik becak barang menuju pelabuhan rakyat yang biasa disebut pelantar. Lalu lintasnya juga selalu padat. Beberapa bangunan ruko diantaranya memang ada yg berubah nama. Bentuk bangunannya juga berubah. Mungkin karena dijual atau perubahan bidang usaha dari pemilknya. Tapi itu belum sampai merubah wajah jalan ini selama puluhan tahun.

————***————

“Hey, ini toko kelontong langganan keluarga saya”, teriak saya dalam hati saat melintas di ujung jalan masuk di ruas jalan ini.

Separuh bangunan toko yang menyita perhatian saya ini mengarah ke jalan Merdeka yang merupakan jalan utama di kota kecil ini. Bagian sampingnya masuk ke area jalan Pos. Namanya belum berubah. Masih tetap menggunakan nama “toko Aliki”. Pengaturan dagangan di toko itu juga masih sama.

Di bagian luar diletakkan buah-buah import seperti jeruk sunkist dan apel merah. Agak ke dalam, berjejer kaleng-kaleng roti biskuit merk khong guan. Benar-benar tidak berubah. Seiring perubahan zaman, toko ini sebenarnya sudah sangat bisa menerapkan pola berdagang ala supermarket. Ini merupakan salah satu toko yang laris dan selalu dikunjungi pembeli. Tapi, kenyataannya tidak. Pengelolanya tetap menggunakan konsep berdagang seperti dulu. Dan saya lihat, toko ini sebenarnya masih laris.

Bergerak sedikit ke jalan Merdeka, dulu saya merasa jalan ini begitu besar. Maklum ini merupakan jalan utama di Tanjung Pinang. Tempat warga dan pedagang tumpah ruah dalam berbagai transaksi ekonomi. Sekarang, rasanya begitu sesak oleh hilir mudik kendaraan dan jejeran kendaraan yang diparkir.

Saya berjalan di koridor pertokoannya yang sebelah kiri. Mulai dari toko Aliki terus ke arah jalan ketapang. Sepanjang koridor saya bisa lihat semuanya hampir tidak berubah juga. Toko-toko yang berjejer rata-rata masih menjual barang dagangan yang sama. Ada toko “Panjang” yang tulisan nama tokonya masih menggunakan papan yang sama seperti hampir 30 tahun lalu. Isi jualannya juga hampir sama.

Di pertengahan komplek ruko, ada lorong hotel Tanjung Pinang yang juga masih dijejali oleh para pedagang kaki lima. Mereka menawarkan barang dengan gaya yang sama. Saya enggan melintasi lorong ini karena malas membalas sapaan para pedagang yang mencoba menawarkan jualan mereka. Tapi kalau mau diteruskan, lorong ini tetap sama. Mengarah ke jalan Pos yang begitu melegenda bagi saya itu.

Di depan toko aladdin, saya sempat berhenti. Dulu, toko ini terkenal sangat hingar bingar karena menjual aneka kaset lagu-lagu. Mulai lagu anak-anak, artis indonesia yang sedang booming hingga lagu-lagu barat yang sedang in saat itu. Banyak orang yang mampir ke toko ini. Sekarang, hampir separuh ruangannya kosong. Isinya hanya panci-panci stainless murahan dan peralatan dapur yang tidak bisa dibilang lengkap.

Perubahan zaman dan pola kebiasaan orang, memang menggerus usaha sang pemilik toko ini. Mungkin juga karena terlambat mengantisipasi perubahan prilaku konsumen. Pada kenyataannya, toko ini sekarang sepi.

Oh ya, ada satu memori lagi tentang kota ini. Penjual roti tawarnya. Nama tokonya “zaman tukang roti”. Dulu, saya sering mampir bersama bapak untuk membeli roti tawar yang jadi bekal saya ke sekolah. Tokonya ada di jalan Bintan. Dari jalan Merdeka, kita cuma perlu berjalan kaki sekitar 5 menit. Sampai sekarang toko itu masih tetap ada. Pengelola yang sekarang -mungkin anaknya, pen- sudah mendiversifikasi usaha dengan membuat produk makanan yang lain seperti kue tart dan cake. Tapi, pengemasannya memang masih kalah jauh dari toko-toko kue di kota lain yang muncul belakangan.

———–****————

“Tanjung Pinang ya begitu-begitu saja. Perubahan pesat justru terjadi di daerah yang dulu pinggiran. Coba liat Batu IX sekarang. Dulu itu tempat jin buang anak”, kata seorang teman tentang kota ini.

“Tambahan satu lagi, sudah beberapa tahun terakhir kota ini sudah naik status jadi ibukota propinsi”, kata saya sambil tersenyum.

Ngomong-ngomong tentang ibu kota propinsi ini, saya jadi ingat sebuah tulisan opini dari istri mantan gubernur Kepri, Aida Zulaikha Nasution beberapa tahun lalu. Saat ia menuliskan opininya, sang suami Ismeth Abdullah masih menjabat sebagai gubernur. Aida yang merupakan anak dari gubernur Riau pertama (dulu Riau dan Kepri masih bergabung dalam satu propinsi, pen) dan sempat menghabiskan masa kecil di kota ini ( dulu juga, ibukota Riau di Tanjung Pinang sebelum dipindahkan ke Pekan Baru, pen) gerah dengan kondisi kota dan masyarakat Tanjung Pinang yang begitu-begitu saja. Menurut Aida untuk menghadapi perubahan zaman, masyarakatnya harus berubah. Kalau tidak, Tanjung Pinang ya bakal begini-begini saja. Persis seperti gambaran saya di atas.

Memang harus ada sesuatu atau pemicu yang merubahnya menjadi lebih baik lagi dari sekarang. Masa iya, kota yang merupakan ibukota propinsi kalah dari segi infrastruktur dan kemauan masyarakatnya sendiri untuk maju dibanding kota tetangganya. Contoh yang paling dekat adalah dengan kota Batam. Pelayanan listrik di kota ini masih payah. Air dari PDAM untul suplai warganya juga mengkhawatirkan karena hanya bertopang dari satu waduk yang sekarang sudah menyusut debit airnya. Belum lagi dengan etos kerja para aparaturnya yang lebih senang berlama-lama di warung kopi daripada melayani warga masyarakatnya.

Cuma masalahnya, apakah perubahan itu harus datang secara evolusi dengan mengharapkan kesadaran lapisan masyarakatnya saja? Untuk hal ini, saya kok lebih setuju dengan tulisan opini bantahan yang disampaikan budayawan di kepri, Rida K Liamsi. Saat itu, Rida menyampaikan kritik terhadap opini yang disampaikan Aida. Isi ringkasnya mungkin begini :

Menurut Rida, perubahan itu tidak akan pernah terjadi jika tidak dipaksakan. Ya, dipaksakan saja. Siapa yang harus memaksakan perubahan di tengah-tengah masyarakat itu? Ya pemerintah daerahnya sebagai pengelola dan pengambil kebijakan di daerah. Seperti menggembala kerbau-kerbau. Penggembala harus mengarahkan kerbau-kerbau itu untuk sampai di padang rumput untuk tempat mereka makan dan kemudian mengarahkannya lagi ke kandang. Kalau perlu dengan lecutan cemeti agar kerbau-kerbau itu tidak salah jalan atau berpencaran.

Sebuah perubahan menuju kebaikan, tidak selalu harus menunggu dari proses alamiah evolusi saja. Saya setuju dengan ide revolusi pemaksaan untuk tujuan yang baik. Cuma masalahnya, apakah pemerintah daerahnya sudah siap untuk melakukan revolusi pemaksaan seperti itu? Jangan-jangan ide pemaksaan itu justru akan sangat membebani dan menyakitkan bagi para aparatur kita. (***)

Posted with WordPress for BlackBerry.
baca terus->

Korupsi itu…


Korupsi itu budaya atau tindak pidana, ya? Banyak yg bilang budaya. Bahkan sdh sangat membudaya di Indonesia. Budaya Korupsi yg sdh membudaya. Mungkin kita sdh bisa memikirkan utk memasukkan nya sbg khazanah budaya bangsa saja. Kemudian mematenkan nya di UNESCO sebagai budaya asli Indonesia.

Jul 28 via BlackBerry · Like · Remove

Indry Bambang and 5 others like this.

Romi Hendra Long Field kalaw sekarang budaya mgkn pak..

Jul 28 · Like · Remove

Febby Eka Chandra Apa hny Indonesia yg pny budaya KORUPSI, bin..?

Jul 28 · Like · Remove

Menot Djawa O….. Tidak bissa……*sul e

Jul 28 · Like · Remove

Romi Hendra Long Field hihihi..

bsa aja lah bg..

Jul 28 · Like · Remove

Bintoro Suryo @romy : kalo sdh dipatenkan, jd sama2 melestarikannya . Hehe.. Entah jd apa indonesia nanti.
@febby : di banyak negara mungkn jg ada korupsi. Tp yg ngakuin itu sebagai budaya, mngkn cuma di Indonesia. Febby sj bilangnya budaya, kan… :-D

Jul 28 · Like · Remove

Bintoro Suryo @menot : Ooo, bisssaa *parto

Jul 28 · Like · Remove

Romi Hendra Long Field hahaha…..

Jul 28 · Like · Remove

Wak Donil Indo klu begitu MASUK PENJARA jg jd budaya jg ya pak..apalagi akhir-akhir ini, di indonesia sdh byk daftar para NAPI yg bergaji (bahkan pendapatan bisa 100X lipat)…maksud nya, yg di penjarakan adalah org yg dg sengaja menjadi aktor dlm skenario, utk menutup aktor2 lainnya….

Jul 28 · Like · Remove

Zainal Batamic legowoin aja ya bin?

Jul 28 · Like · Remove

Ari Indrayanto siippp kita legalkan aja korupsi ………

Jul 28 · Like · Remove

Amir Syarifudin Harun nace SATIRE he he lanjutkan!

Jul 28 · Like · Remove

Said Irwansyach Al-attas Preeeettt….

Jul 28 · Like · Remove

Bintoro Suryo Kalo semua setuju, KPK jg bisa diusulkan jd komisi pemberdayaan korupsi. *mulai-apatis.c om :)

Jul 28 · Like · Remove

Said Irwansyach Al-attas saya tak setuju pak…

Jul 28 · Like · Remove

Bintoro Suryo @said ; bagaimana agar membuat anda setuju jg? Boleh tau nomor rekeningnya :-D

Jul 28 · Like · Remove

Said Irwansyach Al-attas Penyakit udah banyak pak..jgn di tambah lagi…plisss deh..hahaha

Jul 29 · Like · Remove

Posted with WordPress for BlackBerry.
baca terus->

Monday, April 25, 2011

Tentang si plesetan Billboard


BERSAMA teman-teman, saya suka menyanyikan lagu Madu dan Racun atau Singkong dan Keju saat pulang mengaji malam-malam. Lagu yang luar biasa populer dan dinyanyikan oleh setiap orang pada pertengahan dekade 80-an. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa.

Selain suka dan gampang dihapal, sebenarnya kami menyanyikan lagu itu untuk menghilangkan rasa takut saat harus melewati sebuah rumah besar yang memiliki pohon kamboja di depan halamannya. Bagi kami, kondisinya begitu menyeramkan saat malam. Belum lagi cerita tentang sejarah rumah itu yang katanya pernah menjadi tempat wanita gantung diri.

Saya punya jadwal mengaji mulai hari Senin sampai Sabtu. Sama seperti jadwal masuk sekolah. Saban hari juga saya harus melewati rumah besar itu karena letaknya berada di tengah-tengah perumahan. Sementara masjid tempat saya mengaji berada di ujungnya.

Pak Selamet guru mengaji saya, memberi jadwal mengaji untuk saya dan teman-teman setelah magrib dengan ketentuan sudah harus datang sebelumnya. Itu untuk memastikan kami melakukan tugas menimba air sumur untuk berwudhu dan melaksanan shalat Magrib berjamaah bersama. Proses mengaji dilakukan dalam rentang setelah Magrib hingga waktu Isya tiba. Biasanya kami pulang sekitar pukul 20.00 atau 20.30 WIB, tergantung bahan ajar yang disampaikan pak Selamet pada kami.

Waktu pulang mengaji adalah hal yang paling mendebarkan bagi saya setiap malam. Dan yang paling ‘krusial’, saya harus melewati rumah besar itu. Lagu Singkong dan Keju biasanya kami nyanyikan begitu keluar dari halaman masjid dan terus diulang-ulang bila baitnya habis, untuk memberi kesan ramai. Tapi seiring perjalananan pulang, yang menyanyikan lagu itu biasanya juga semakin berkurang. Saya termasuk kelompok terakhir yang menyanyikannya.

Maklum, letak rumah saya memang yang paling jauh dibanding teman-teman yang lain. Lagu riang itu memang cukup membantu saya menghilangkan rasa takut, walaupun harus dinyanyikan dengan gaya fast forward saat melintas di depan rumah besar itu :-) .

Itu sekitar tahun 1985 atau 1986, saya lupa persisnya. Pelantunnya grup musik Bill & Brod yang vokalisnya terlihat begitu keren di mata saya. Pakai topi pet dan kacamata hitam besar. Ia selalu bernyanyi dengan riang dan bersahabat seperti yang selalu saya dengar di radio RRI atau saksikan di stasiun TVRI. Saking riang dan bersahabat, saya sampai tidak sadar dengan lirik yang biasa saya nyanyikan itu sebenarnya belum cocok untuk anak seusia saya, saat itu.

—————***————–

Saya punya kebiasaan membeli kaset album lagu-lagu sejak masih kecil. Bukan dengan cara meminta ke orang tua. Saya biasanya menabung dari uang jajan harian. Hal yang sama juga dilakukan abang dan adik saya. Kami bertiga bersaudara memang pencinta musik sejak kecil :-) . sampai sekarang, koleksi kaset kami masih ada walaupun sudah tidak utuh lagi karena termakan usia.

Dulu, kami biasa membeli lagu apa saja asal kami suka. Biasanya kami membeli kaset setiap bulan saat tabungan uang jajan sudah terkumpul. Kaset yang dibeli bisa lagu anak-anak yang lagi populer saat itu, lagu pop Indonesia atau bahkan lagu barat. Kalau saya membeli album lagu dari artis A, abang saya akan membeli album lagu dari artis B dan adik saya membeli album lagu dari artis C. praktis, tiap bulan kami selalu punya tambahan koleksi tiga kaset album baru yang bisa kami dengarkan bersama-sama satu saudara.

Tahun 1987, Bill & Brod mengeluarkan album baru lagi. Itu Album mereka yang ketiga. Saya masih ingat judulnya ; kodok pun ikut bernyanyi. Lagu mereka dipromosikan gencar di TVRI dan memang cuma TVRI-lah satu-satunya stasiun tv di Indonesia saat itu. Saya ingin membeli albumnya, cuma sudah terlanjur janji dengan dua saudara saya untuk membeli album Rano Karno – Bukalah Kacamatamu :-P .

Karena tidak ingin ingkar janji, saya pengaruhi adik saya untuk membeli album Bill & Brod. Kebetulan saat itu, ia memang belum punya pilihan kaset yang akan dibeli . Saya memang suka dengan vocalisnya. Wajahnya selalu riang. Saya suka ia mengenakan topi pet dan kacamata besarnya itu.

Sepanjang karirnya bernyanyi bersama Bill & Brod, saya selalu melihat Ari Wibowo tampil dalam penampilan yang hampir selalu sama. Bertopi pet, kacamata hitam besar dan mengenakan kaus bermotif garis besar di kedua lengannya. Penampilan Ari wibowo yang beda, justru baru saya lihat hampir dua puluh tahun kemudian saat ia meninggal 14 April 2011 kemarin.

Karena penasaran dan kangen sudah lama tidak mendengar kabarnya, saya browshing apa saja tentang Ari Wibowo di internet. Hasilnya, saya menemukan beberapa foto Ari wibowo tanpa pet dan kacamata hitam besarnya itu dari beberapa blog. Itu foto-foto Ari Wibowo sebelum terkenal bersama Bill & Brod. Penampilan si vokalis riang itu ternyata benar-benar beda.





————–***—————-

Awalnya Bill & brod adalah Arie Wibowo, Nyong Anggoman, Rully Bachry, Wawan Konikos dan Kenny Damayanti. Mereka mulai tenar saat meluncurkan album pertama ; Madu dan Racun. Lagu itu sebenarnya bukan lagu baru. Tahun 1975 sempat dirilis oleh Prambors Vocal Group dengan judul Bingung. Sebelum bergabung dalam Bill & Brod, Ari Wibowo memang pernah tergabung dalam Prambors Vokal Group dan Topan Groups.

Ari bersama Bill & Brod-nya mengaransemen ulang dengan menirukan sedikit gaya The Art Company saat menyanyikan lagu Suzana. Ada tepuk tangan riuh di awal lagu seperti sedang menyanyi secara live. Konsep itu ternyata mampu menggebrak pasar yang saat itu banyak didominasi lagu-lagu karya Rinto Harahap, D’Loyd dan Eddy Silitonga yang lebih mendayu-dayu. Bill & Brod tampil dengan warna yang lebih segar dan terkesan bersahabat di telinga. Album pertamanya sukses besar dan mengejutkan karena terjual lebih dari satu juta kopi. Kesuksesan itu juga diikuti album-album berikutnya dan jadi trend setter bagi penyanyi-penyanyi lain untuk menyanyikan lagu serupa yang segar.

Dalam sebuah wawancara dengan sebuah kru stasiun televisi sebelum meninggal, Ari Wibowo pernah bilang bahwa Bill & Brod sebenarnya merupakan sebuah proyek yang awalnya dikerjakan iseng-iseng saja. Ia tidak pernah memprediksi albumnya meledak. Coba lihat saja nama grupnya, Bill & Brod. Itu merupakan plesetan dari sebuah label internasional yang sudah terkenal, Billboard. Proses pembuatan album pertamanya juga tergolong singkat, cuma seminggu.

Ari Wibowo sebelumnya bernama Sidosa. Ia juga sempat punya nama Masary sebelum benar-benar beken dengan nama Ari Wibowo. Ari merupakan salah satu pioneer penyanyi di Indonesia yang memperjuangkan sistem pembagian royalty untuk penjualan album lagunya. Pada dekade 80-an dan sebelumnya, pembagian keuntungan dari hasil penjualan album penyanyi di Indonesia biasa dilakukan atas dasar kesepakatan saja atau atas dasar kebijakan produser rekaman.

Saat pembuatan proyek Album Madu dan Racun yang digarapnya bersama Bill & Brod tahun 1985 silam, ia meminta kesepakatan tertulis tentang pembagian royalti dari setiap keping album yang nantinya bisa terjual bersama produser rekaman. Walau digarap iseng-iseng, ternyata ia tetap serius memikirkan yang satu ini. Permintaannya disetujui dan ternyata albumnya benar-benar meledak. Ari dan Bill & Brod menerima Rp 100 dari setiap album lagunya yang saat itu dijual seharga Rp 1.250,- per kaset. Total penjualan album pertamanya sendiri mencapai 1 juta kopi lebih. Konsep pembagian royalty itu, akhirnya diikuti oleh penyanyi-penyanyi dan label rekaman lain di Indonesia. (***)
baca terus->

Thursday, April 7, 2011

Goes to Nusawiru


SAAT MEMBACA namanya di sebuah plang penunjuk arah di Pangandaran, saya langsung ingat lagu ini ;

Pulau yang indah bagai surga.

Manusia bijaksana.

Hidup penuh dengan ketenangan.

Nggak pernah salah paham.


Ini tentang nama sebuah bandara kecil di kota yang juga kecil di pesisir selatan Jawa Barat. Namanya Nusawiru.

Biar kecil, Nusawiru ternyata sudah melayani penerbangan setiap hari. Dua kali ke Jakarta dan dua kali lagi ke kota kembang, Bandung plus penerbangan pp ke bandara Tunggul Wulung – Cilacap. Seluruhnya dilayani dengan satu-satunya maskapai yang beroperasi di sana, Susi Air.

Nusawiru terletak di daerah Cijulang, kecamatan Pangandaran kabupaten Ciamis. Bandara itu merupakan bandara perintis yang hanya mampu didarati pesawat kecil berbaling-baling. Seperti Cesna atau Cassa.

Untuk mencapainya, kita juga harus melalui beberapa dusun dan desa di sepanjang garis pantai selatan Jawa. Mendekati lokasi, kita masih harus membelah keramaian pasar Parigi. Awalnya saya sama sekali tidak menyangka bahwa jalur yang sedang saya lalui itu akan berujung ke bandara Nusawiru.

Komplek bandara Nusawiru tidak begitu besar. Begitu masuk gerbang, kita langsung disambut dengan bundaran seperti alun-alun yang banyak terdapat di kota-kota di pulau Jawa. Sementara lokasi parkir kendaraannya hanya terdiri dari dua ruas yang saling berhadap-hadapan.



Bandara nusawiru juga cuma memiliki satu gedung terminal yang difungsikan sebagai terminal keberangkatan sekaligus kedatangan. Ruang check-in nya langsung berhadap-hadapan dengan pintu masuk terminal. Jadi saat membuka pintu pada jam operasi, kita akan langsung berhadap-hadapan dengan petugas check in counter :-) .



Tidak ada peralatan moderen seperti komputer untuk memeriksa daftar penumpang atau juga “ban berjalan” yang biasanya terdapat di ruang-ruang check in counter sebuah bandara dan berfungsi membawa barang bagasi milik penumpang. Yang ada Cuma satu timbangan digital untuk ukuran barang maksimal hanya 25 kilogram.

Menara pengatur lalu lintas udara bandara Nusawiru terletak di sebelah kiri bangunan terminal. Tingginya hanya dua lantai saja. Untuk menghubungkan bangunan terminal dan menara pemantau, ada sebuah koridor yang terlihat bersahaja tapi cukup rapi dan asri untuk dilihat.

Biar kecil, status bandara ini aktif karena mengoperasikan 4 penerbangan per hari. landasaan pacunya juga sudah permanen dengan panjang 1400 meter. Hanya saja fasilitas bangunannya yang minim. Nusawiru hingga saat ini masih dikelola oleh TNI.

Sampai saat ini, operasional bandara Nusawiru hanya diramaikan oleh satu maskapai saja, Susi Air. Tapi walau sudah berjadwal setiap hari, maskapai Susi Air sebenarnya belum begitu fokus menggarap pasar transportasi komersil regular di sini. Kehadirannya lebih pada kepentingan transportasi bisnis perikanan, pertanian dan jasa charter pariwisata. Kebetulan sang pemilik susi air, seorang wanita asli Pangandaran bernama Susi Pudjiastuti adalah juga seorang penggiat usaha perikanan di kota itu.

Untuk saat ini Susi Air mengoperasikan pesawat pesawat Grand Caravan 208 B, Piagio Avanti H, Pilatus Porter, Diamond DA42, dan Agusta Helicopter. Rata-rata merupakan pesawat bermesin ringan dengan tipe jet propeler yang mampu mengangkut 8 hingga 9 orang. Sementara untuk penerbangnya, Susi Air menggunakan pilot asing.

Untuk bisa terbang menggunakan maskapai Susi Air dari bandara Nusawiru, pengelola maskapai biasa menawarkan kendaraan jemputan untuk menuju ke lokasi bandara pada hari H jadwal keberangkatan kita. Travel mereka akan menjemput di lokasi tempat kita menginap. Untuk terbang ke Jakarta dengan tujuan bandara Halim Perdanakusumah, biaya yang harus kita bayar sekitar Rp. 535.000,- per orang. Sementara untuk rute ke bandara Husein Sastranegara – Bandung, biayanya sekitar Rp. 300.000 – an per orang.

********



Oh, ya, tempo hari saat berada di Pangandaran, saya juga dapat kabar bahwa bandara kecil ini segera akan direposisi oleh pemerintah propinsi Jawa Barat. Reposisi yang dimaksud adalah merubah fungsi bandara nusawiru yang semula hanya untuk mendukung sektor pariwisata, pertanian dan perikanan, menjadi bandara yang lebih kompleks secara komersil. Menurut rencana, bandara Nusawiru juga akan dijadikan salah satu home base perawatan pesawat sekaligus sekolah penerbangan, wah… :-) (***)
baca terus->

Maaf Tuhan, malam Ini saya berhutang seribu padanya


SAYA SELALU melihatnya, hampir tiap malam usai pulang kerja. Biasanya, ia selalu ada di sudut jalan yang sama di perempatan Kalista. Posisinya juga hampir selalu begitu. Tertidur ayam-ayaman dengan posisi duduk di bahu beton pinggir jalan. Tangannya yang memegang setumpuk koran didekapkan di dada.

Umur bocah itu saya tebak tidak lebih dari enam tahun. Masih terlalu kecil untuk menjadi seorang penjaja koran pinggir jalan. Apalagi hingga selarut ini. Tapi kondisi memaksanya untuk mau melakukan pekerjaan itu.

Malam ini, entah sudah malam ke berapa saya melihatnya lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Posisinya tetap sama ; tertidur ayam-ayaman dengan posisi duduk. Tangannya memegang tumpukan koran yang didekapkan di dada.

Sekarang, saya lebih leluasa mengamatinya. Lampu pengatur jalan sedang menyala merah. Kendaraan saya berada di posisi terdepan dalam antrian ini. Tapi, bising mesin diesel jip saya ternyata tidak cukup ampuh untuk membangunkannya. Ia tetap tertidur. Sesekali kepalanya hampir terjatuh pertanda ia sebenarnya sudah hampir terlelap.

Saat lampu pengatur jalan menyala merah, seharusnya jadi kesempatan baginya untuk menjajakan koran. Menawarkan dari satu pengemudi kendaraan ke pengemudi kendaraan lainnya. Kesempatan itu sepertinya bakal terlewatkan untuk kali ini.

Lima… sepuluh… lima belas…. dua puluh detik! Bocah itu tetap dengan posisinya.

Saya merogoh-rogoh kantong celana, mencari uang receh yang mungkin terselip sisa kembalian membeli rokok tadi siang.

“Kok nggak ada”, ujar saya dalam hati.

Tangan saya kemudian beralih ke kantong bagian belakang untuk mengeluarkan dompet. Tiba-tiba, lampu sudah berubah jadi hijau. Spontan, tangan ini beralih lagi ke laci mobil yang ada di bagian samping. Berharap ada uang recehan yang biasa sengaja saya siapkan untuk membayar biaya parkir kendaraan. Tapi, saya hanya menemukan selembar ribuan saja.

“dik, dik…. Dik” teriak saya dari balik mobil berusaha membangunkan bocah itu. Ia bereaksi dan langsung menoleh. Secepatnya ia bangkit dan kemudian setengah berlari menghampiri kendaraan saya.

“Ini ambil, ambil saja” kata saya sambil mengulurkan tangan padanya. Saya sudah harus bersiap-siap jalan. Suara klakson yang bersahutan di belakang memang sudah tidak sabar menunggu.

“Nggak, om beli saja” kata bocah itu. Ia mengambil uang di tangan saya kemudian memasukkan satu eksemplar korannya ke dalam mobil.

“korannya bawa saja” kata saya sambil berjalan perlahan dengan kendaraan.

Tangan saya mengambil koran yang tadi dimasukkannya ke dalam. Tapi bocah itu sudah beralih ke kendaraan di belakang, berusaha menawarkan korannya lagi. Sepertinya, ia berusaha memanfaatkan sedikit waktu sebelum kendaraan-kendaraan di perempatan ini benar-benar jalan. Ia ingin mengganti waktunya yang tadi terbuang karena tertidur.

Mendadak terlintas kekhawatiran terhadap bocah itu. Takut terjadi apa-apa padanya. Tubuhnya yang kecil, bisa saja tidak terlihat pengendara lain yang sedang bersiap-siap menjalankan kendaraannya lagi. Apalagi, kesadarannya juga belum pulih setelah tadi sempat tertidur sejenak.

Jika terjadi apa-apa padanya, saya akan merasa jadi orang yang paling berdosa. Sayalah yang tadi membangunkannya. Dari balik spion kendaraan, saya mengamati sampai akhirnya tubuh mungil itu menghilang ditelan malam.

“Alhamdulillah, anak itu baik-baik saja” gumam saya.

Sambil mengemudikan kendaraan menuju rumah, saya lihat lagi koran yang tadi dilemparkan bocah itu ke dalam. Saya cuma bisa tersenyum kecut saat melihat bandrol harganya : 32 halaman – Rp 2000,-

“Maaf Tuhan, malam ini saya berhutang seribu padanya”. (***)
baca terus->

Sebuah Permintaan dari Jimmy Wales


ISENG-ISENG mampir ke situs Wikipedia. Itu salah satu situs favorit saya beberapa tahun lalu. Banyak informasi dan wawasan baru yang saya dapat di sana. Dari segi tampilan, tidak ada yang begitu berubah dari Wiki. Situs itu masih “bersih” dari iklan dan promo-promo produk.

Tampilan awal pada situs : Wikipedia.0rg juga masih sama. Ada alternatif beragam bahasa yang bisa kita pilih untuk mengakses informasi yang ada di dalamnya. Lebih ke dalam lagi, tetap ada fitur mesin mencari yang akan menyesuaikan dengan kata kunci ensiklopedi yang kita masukkan.

Tidak ada iklan, tidak ada promosi. Dua banner yang ada di sebelah kiri adalah link untuk menuju ke dua situs turunan Wikipedia lainnya ; www.mediawiki.org dan wikimediafoundation.org.

Satu-satunya tampilan yang mungkin agak baru adalah gambar pendiri Wikipedia, Jimmy Wales yang terpampang besar di bagian atas. Tapi, Jimmy tidak sedang mempromosikan diri seperti kandidat-kandidat kepala daerah yang banyak menghiasi kepala-kepala halaman surat kabar hingga situs media dan televisi. Jimmy Wales tampil untuk menyampaikan permintaannya kepada komunitas Wikipedia. Ini tentang masa depan situs tersebut.

Ini permintaan Jimmy Wales :

Banyak yang mengganggap saya aneh ketika sepuluh tahun lalu saya mulai berbicara kepada orang-orang tentang Wikipedia. Katakan misalnya saja tentang sikap skeptis dari beberapa orang tentang pandangan saya bahwa sukarelawan dari seluruh dunia bisa datang bersama-sama untuk menciptakan sebuah wadah yang luar biasa besar dari sumber informasi dan pengetahuan manusia. Semuanya untuk tujuan yang sederhana, berbagi. Tidak ada iklan, tidak ada misi tertentu. Tanpa pamrih. Satu dekade setelah didirikan, hampir 400 juta orang menggunakan Wikipedia dan situs turunannya setiap bulan. Jumlah itu hampir sepertiga dari populasi dunia yang terhubung ke Internet. Ini adalah situs ke-5 yang paling populer di dunia saat ini. Keempat situs lainnya dibangun dan dipelihara dengan investasi miliaran dolar, pegawai perusahaan dalam jumlah besar dan pemasaran tiada henti. Wikipedia bukanlah situs web komersial. Wikipedia adalah sebuah situs komunitas yang diisi oleh para relawan untuk membuat entri dari waktu ke waktu. Anda adalah bagian dari komunitas kita itu. Dan, saya menulis sekarang adalah untuk meminta Anda melindungi dan mempertahankan Wikipedia. Dengan bersama-sama, kita bisa tetap gratis dan bebas dari iklan. Kita dapat tetap terbuka. Anda dapat menggunakan informasi di Wikipedia dengan cara apapun yang Anda inginkan. Kita bisa tetap tumbuh, menyebarkan pengetahuan di mana-mana dan mengundang partisipasi dari semua orang. Setiap tahun pada saat ini, kami menjangkau dan meminta Anda serta orang lain di seluruh komunitas Wikimedia untuk membantu mempertahankan usaha bersama kita ini dengan sumbangan sederhana $ 20, $ 35, $ 50 atau lebih. Jika Anda menghargai Wikipedia sebagai sumber informasi dan sumber inspirasi, saya harap Anda akan memilih untuk bertindak sekarang. Semua (untuk) yang terbaik, Jimmy Wales Pendiri Wikipedia P.S. Wikipedia adalah tentang kekuatan dari orang-orang biasa seperti kita untuk melakukan hal-hal yang luar biasa. Orang-orang seperti kita yang menulis di Wikipedia, terus menerus dari waktu ke waktu. Orang-orang seperti kita mendanai proyek ini, satu sumbangan pada satu waktu. Ini adalah bukti dari potensi bersama kita untuk mengubah dunia.

———–oooo————-

Dari situs wikimediafoundation.org saya dapat gambaran tentang permintaan terbuka Jimmy Wales tersebut. Obyektif pertama dan terpenting adalah untuk mempertahankan Wikipedia dan proyek-proyek mereka lainnya agar tetap gratis dan bebas iklan. Usulan donasi seperti yang disampaikannya adalah untuk membantu mendanai peralatan server, staf operasi, saluran yang lebih besar (pita lebar, broadband), dan lain sebagainya.

Tahun ini, Wiki sebenarnya juga punya rencana untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan (storage) sehingga memungkinkan menyimpan file-file video dan audio yang lebih banyak lagi.

Menurut Jimmy, donasi yang berhasil dikumpulkan nantinya juga akan digunakan untuk pengembangan beberapa perangkat lunak agar secara berkesinambungan dapat meningkatkan performa Wikipedia bagi para pembacanya, sekaligus untuk meningkatkan efektivitas kontribusi mereka. Peningkatan perangkat lunak tersebut termasuk pengembangan peralatan peningkatan kualitas, penyederhanaan antarmuka penyuntingan, peningkatan proses pemuatan media, penanganan yang lebih baik atas ragam media, statistik kedalaman, dan lain sebagainya.

Apa yang bisa kita dapatkan? Wiki menjanjikan setiap orang dapat tetap memiliki akses ke konten mereka dalam berbagai cara dan gratis. Termasuk juga untuk mengunduh materi-materi yang ada di situs tersebut. Baik itu yang berupa tulisan, audio atau video.

Yang lain, hasil donasi yang terkumpul juga akan dibagi untuk sebuah proyek menolong organisasi nirlaba lain. seperti proyek One Laptop Per Child, membantu meningkatkan akses telepon selular, menambahkan sistem eksport PDF dan membangun kerjasama strategis untuk membantu mereka yang hanya memiliki akses internet yang terbatas hingga tidak ada sama sekali.

Terakhir, namun juga yang terpenting, Wikimedia Foundation hadir untuk mendukung komunitas sukarelawan global supaya mereka dapat meningkatkan jumlah pengetahuan bebas. Sekarang, Wiki didukung oleh 19 mitra-mitra lokal. Dua yang terbaru adalah dari Brasil dan Indonesia.

Nah, itu semua memang baru bisa berjalan jika komunitas Wiki berpartisipasi penuh untuk tetap mempertahankan keberadaan situs tersebut. Keberadaan dan kelangsungan Wikipedia sekarang, sepertinya memang akan lebih banyak bergantung pada partispasi para relawannya. Termasuk mungkin anda? . (***)
baca terus->